Spark Of Genius

Saya kah Pemimpin Era Disruptif ?

MEMASUKI abad 21, organisasi dihadapkan pada berbagai tantangan bisnis yang menuntut organisasi membangun kemampuan baru. Tantangan pada era disruptif menjadi isu yang sangat relevan terhadap perubahan organisasional yang harus dikelola secara integral bukan lagi parsial,  Perusahaan dalam era globalisasi melibatkan dua dimensi yang saling berinteraksi antara manusia dan teknologi. Manusia yang melakukan proses organisasi, sedangkan teknologi memengaruhi struktur organisasi yang berdampak terhadap  perubahan desain pekerjaan, metode kerja dan desain organisasi.

 Dengan pergantian teknologi yang sangat cepat, orientasi perusahaan ke depan adalah membuat organisasi dan anggotanya makin efektif. Dengan kata lain  organisasi  harus menciptakan  kegiatan  berkelanjutan yang tertuang  dalam struktur, prosedur dan aspek manusia terintegrasi dalam sistem kerja yang sistematis. Oleh karenanya perlu dipersiapkan pemimpin-pemimpin yang dapat mengakomodir isu-isu yang berhubungan dengan konteks perubahan melalui kepedulian pemimpin untuk melakukan pembelajaran dalam memenuhi kompetensi manajerial.

 Pemimpin adalah salah satu kunci keberhasilan membawa perusahaan tetap berkibar. Semakin kompleks persoalan perusahaan, semakin banyak kompetensi yang dipersyaratkan menjadi pemimpin masa kini yaitu pemimpin harus bisa memilah dan memilih kompetensi yang akan dipratikkan sesuai dengan kondisi lingkungan internal dan eksternal.  Pemimpin dalam organisasi diwajibkan berinovasi menciptakan nilai lebih besar dari biaya yang dikeluarkan (visi yang ber-impact). Pemimpin masa kini harus bisa menciptakan ekosistem dalam mencapai bisnis performance dan social performance secara bersamaan (Rene, 2015). Pemimpin yang sanggup mendorong orang-orang dalam organisasi untuk mencapai sebuah legacy. Bukan saja membuahkan sebuah hasil pemikiran namun juga sebuah cinta (Steve Covey, 2010).

 Bagaimana pemimpin menjalankan pekerjaan?  Ia bisa memastikan kejelasan tujuan organisasi pada seluruh anggota organisasi (clarity of organizational), ia  memimpin dengan perilaku konsisten, nyata dan tegas (walk the talk), serta stewardship. Peter mendeskripsikan kompetensi stewardship dimana pemimpin akan menyadari kapan otoritas dan pengambilan keputusan didesentralisasi ke setiap anggotanya serta menjujung kesetaraan antara pemimpin dan pengikut.  Sebuah kemitraan yang setara dari pada struktur komando pemimpin-pengikut. (Peter Block, 1994).

Kompentensi stewardship memperhatikan kesinambungan dan menerjemahkan esensi ke pemimpinan dalam konteks pengabdian. Pemimpin yang menggunakan kewenangan bukan untuk sewenang-wenang, tidak bersandar pada label, apalagi uang semata, tidak berusaha mendominasi pengikutnya. Lebih berkonsentrasi meningkatkan, mengembangkan, dan mencapai tujuan perseorangan maupun tujuan organisasi. Dengan otoritas dan pengambilan keputusan yang terdesentralisasi, maka pekerjaan dapat lebih cepat diselesaikan karena tidak perlu mengikuti rantai komando yang panjang.

 Kompetensi stewardship adalah salah satu indikator dari model servant leadership.  Kompetensi ini telah diramalkan menjadi salah satu  kompetensi yang dibutuhkan  pada kepemimpinan di abad 21 (Spears, 2010). Pemikiran mereka ini terbukti  dengan penelitian terkait  pada  generasi millennial, mereka  membutuhkan pemimpin lebih inklusif dan mudah berbaur, serta memiliki variasi lebih pada tingkat kepemimpinan, dan struktur organisasi yang lebih dinamis.

Selain itu pemimpin harus paham betul tentang empat kompetensi tentang kekuatan diri dan timnya sehingga ia dengan cermat dapat mempersiapkan lingkungan kerja agar menjadi tempat yang memberi keleluasaan tim-nya mudah menjalankan passion dan tujuan mereka yaitu pertama alignment, suatu rantai yang secara konsisten melibatkan strategi, pelanggan, proses dan individu. Setiap individu memiliki keinginan yang akan dikorelasikan secara linier dengan tujuan hidupnya. Pentingnya aligning dalam organisasi adalah untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan yang akan dicapai organisasi dan menghilangkan berbagai pengaruh yang menghambat pencapaian visi organisasi sehingga organisasi efektif dan efesien. Alignment merupakan bagian penting dalam implementasi perencanaan strategis. Sebab perencanaan strategis   memerlukan implementasi yang konsisten. Antara lain dengan melaksanakan aligning process (proses penyelarasan) secara benar.

Kedua Enablement, proses pembentukan setiap orang untuk jadi lebih berdaya, mampu dan mandiri. Mereka menjalankan proses learn dan unlearn,  Enablement bukan sekadar soft skill dan hard skill. Namun juga inner skill, kemampuan untuk mengenal diri sendiri, sadar diri, sehingga sadar akan tugas hidupnya. Ketiga, Autonomy, melibatkan keleluasaan terhadap waktu, jenis pekerjaan, pola kerja dan tim kerja. Dalam Autonomy, karyawan diberikan ruang melakukan trial dan erroryang bertanggung jawab. Belajar menjalankan kegagalan, Autonomy meminta kesediaan organisasi mengalahkan efisiensi demi sebuah terobosan. Autonomy mutlak dibutuhkan trust (kepercayaan),  pemimpin akan memastikan kejujuran dan konsistensi antar kata dan tindakan (integrity), niat terbaik untuk kepentingan bersama (benevolence), Kemampuan menjalankan apa yang dijanjikan (ability),  Keempat, Community, proses memfasilitasi hubungan, bukan sekadar hubungan kerja. Antara satu individu dengan individu lainnya, antar satu kelompok dengan kelompok lainnya.

 Dengan kata lain pemimpin harus mampu menguasai strategi yang terintegrasi mulai dari tingkat korporasi, tanggap terhadap kepekaan dalam menghasilkan solusi atas perubahan yang terdapat diluar organisasi dan memberikan dampak terhadap strategi bisnis, menciptakan engagment terhadap customer baik pada pelanggan internal dan eksternal. Selain itu memiliki kehandalan dalam bidang kekhususan teknis pada strategi di level operasional atau fungsional, sehingga tanggap terhadap kebutuhan peningkatan keilmuan, satu hal lain yang penting adalah strategi personel, yaitu pendekatan dibangun secara langsung maupun tidak langsung oleh pemimpin bersifat fleksibel dan dinamis dalam menyikapi perubahan generasi dan organisasi.

 Pemimpin masa kini mampu mengubah pola pikirnya menjadi pemimpin yang adaptif mudah berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan bisa memperlakukan karyawan multigenerasi sesuai dengan karakternya. Para pemimpin perusahaan perlu memahami cara berinteraksi, berkomunikasi dan memperlakukan  mereka dengan tepat. Hal tersebut diharapkan dapat menimbulkan rasa keterikatan terhadap perusahaan. Dengan munculnya rasa kepemilikan secara otomatis dapat meningkatkan kolaborasi tim dan menciptakan efektifitas tim multigenerasi yang lebih tinggi. Dengan kata lain belajar memahami perbedaan generasi sejalan dengan memahami berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tipe anak buah tertentu, sehingga mereka lebih bertahan dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Pertanyaan kepada pemimpin yang menjadi pimpinan pada saat ini, Bagaimana Anda Membangun Kompetensi Anda?

Siapkah kita menjadi pemimpin masa kini dan masa depan? Pemimpin yang memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya (John Maxwell, 2011), karena keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, dan keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin memiliki peranan memudahkan dan mendukung kemampuan kepemimpinan orang lain, bukannya merasa terancam oleh kemungkinan perkembangan orang lain.

Bagi perusahan harus menyadari perbedaan generasi telah mengantarkan kehancuran yang besar pada perusahaan-perusahaan yang amat kita kagumi di masa lalu. Perusahaan-perusahaan multi-nasional yang dulu dikenal seperti lBM, Exxon, Walmart, P&G, dan Lehman Brothers kini digantikan Google, Apple, Facebook, Samsung, dan pendatang-pendatang baru dari China, Korea, dan Rusia.

Kehancuran perusahaan-perusahaan besar kelas dunia seperti Pan Am, Kodak Enron, Arthur Andersen, Lehman Brothers, Nokia, dan seterusnya juga mengakibatkan industri-industri keuangan terguncang.

 Lalu bagaimana Anda memilih pemimpin diperusahaan Anda?

 

Oleh Dr. Zahara Tussoleha Rony, M.M.

Penulis adalah Corporate Human Capital Strategist dan Ka. Prodi MM Univ. Bhayangkara Jakarta Raya